KOMHUMASDalam rangka menjalin hubungan kemitraan untuk memperkuat dan membangun hubungan jangka panjang yang baik dengan institusi mitra internasional, Kantor Urusan Internasional (KUI) Unisba menyelenggarakan 'Global Engagement Forum' yang sekaligus dilaksanakan Penandatanganan MoU antara Unisba dengan Kalinga Institute of Industrial Technology (KIIT) secara virtual melalui Zoom Meeting
TOMOHON Pagelaran Seni Pertunjukan dengan judul "I Yayat U Santi" The Story of Minahasa's Highland Warrior yang mengangkat cerita legenda Waraney dari pegunungan Minahasa kuno, lesung Mahatus oleh IKKON BEKRAF, bertempat di Amphitheater Woloan, Sabtu (2/11/2019). Walikota Tomohon Jimmy Feidie Eman SE Ak CA bersama Wakil Walikota Syerly Adelyn Sompotan membuka
iyayatusanti #waraney #kabasaran #minahasa #artsyndicatesoloMarilah kita bersama menghadapi tantangan maut itu dan menanggulanginya demi kehidupan kita dan
Jadiseruan I Yayat U Santi! dan sambutan sorakan Uhuuy! atau Tentu itu! bermakna : Marilah kita bersama menghadapi tantangan maut itu dan menanggulanginya demi kehidupan kita dan anak-cucu-cece kita. Dikutip dari buku : Injil dan Kebudayaan di Tanah Minahasa. Sejarah.
Adapundasar pemikiran kedua beliau tersebut bahwa kata-kata "I Yayat U Santi" dari bahasa Tombulu tua yang arti harafia 'acungkan pedang perang'. Dan ini dapat dibuktikan dan disajikan pada tari-tari perang seperti; seruan dalam tari perang cakalele "KAWASARAN' (Kabasaran) adat Minahasa. Inilah konteks pengertiannya untuk logo
CV3O. MANADO - Kabasaran. Mendengar namanya, banyak orang nyalinya langsung ciut. Bukan karena mereka seorang pemberani dengan pedang yang siap menghunus. Atau penampilannya tampak sangar saat mata terbelalak dengan pakaian serba merah. Pun dengan aksesoris lehernya dengan beragam tengkorak dijejer membuat bulu kuduk berdiri. Tapi para penari dengan pakaian serba merah, mata melotot, wajah garang, diiringi tambur sambil membawa pedang dan tombak tajam itu sejatinya membuat Kabasaran ini kharismanya tak pernah redup. Warna pakaian dominan merah dengan berbagai aksesoris berupa topi berhias sayap dan paruh burung uwak buceros exaratus atau burung jenis lainnya. Kalung dengan tengkorak monyet macaca nigra, gelang dan lain-lain menambah kesempurnaan seorang prajurit yang gagah para Waraney yang memiliki sifat jujur, pemberani dan bijaksana. Simbol ketangguhan Bangsa Malesung atau Tanah Minahasa yang memiliki suatu arti bahwa keturunan bangsa Malesung harus selalu menjaga tanah Minahasa agar selalu tentram dan damai, dimana para Waraney era ini di tuntut untuk rajin bekerja, membangun daerah, berjuang untuk anak cucu.“Saat ini apa yang kami lakukan adalah untuk melestarikan adat budaya warisan leluhur dengan benar. Karena itu apabila Waraney di era ini diartikan sebagai seorang yang arogan, sombong, suka berkelahi, pemaki, rasis, alkoholik dan hal-hal buruk lainnya itu bukanlah seorang Waraney melainkan para perusak nama baik dari Waraney,” jelas Semen Koraah, Ketua Kabasaran Waraney Totokay Pineleng, Kabupaten Semen, kalau pun dirinya diberikan kemampuan tak tembus atau terluka meski benda tajam menyentuh tubuhnya itu disebabkan karena Tuhan memberikan karunianya. Sebab kata dia, jika Tuhan tak mengijinkan siapapun bisa seorang penari Kabasaran yang benar mereka tak akan meminum alkohol ketika akan bermain apalagi memainkan pedang dengan menggesek-gesekannya di jalanan yang membuat para penontonnya ketakutan. “Itu berarti mereka itu sudah mabuk. Kami dilarang mengosok-gosok pedang atau tombak di jalanan,” beberapa catatan, visi dan misi seorang Waraney begitu mulia. “Esa Kita Peleng…! Esa Woan Pawetengan Kumihit Un Posan. Taan Kita Peleng Esa…! Maesa Wian Untep…! Maasa Masaru Se Kaseke Wana Ng’Kesot…!” Satu Kita Semua…! Satu Lalu Dipisahkan Tempat Karena Kebaktian Agama/Ajaran. Tapi Kita Semua Satu…! Satu Dibagian Dalam…! Bersatu Menghadap Musuh Dari Luar…!Menuju itu semua tidaklah mudah. Proses ritual dari jalan hidup seorang Waraney cukup panjang. Sejarah panjang Waraney yang merupakan prajurit perang pemberani dari bangsa Malesung Orang Minahasa yang tidak pernah mundur dalam setiap peperangan yang terjadi di zaman kolonial maupun sebelum zaman kolonial sudah teruji. Meski pada akhirnya Waraney tenggelam karena ulah kompeni. Tapi sebelum ada kolonial Belanda, Waraney merupakan tentara bangsa Malesung yang menjadi ujung tombak di setiap suku di Minahasa dalam melawan segala sesuatu yang dapat mengancam bangsa Malesung baik itu berupa binatang buas maupun manusia.“Siapa pun yang berniat berbuat jahat di tanah Minahasa pasti akan kami lawan. Inilah sebenarnya fungsi Kabasaran dulu,” kata Pembina Kabasaran Waraney Totokay Pineleng, Kabupaten Minahasa, Micky pegawai negeri sipil di Dinas Kebudayaan Sulut itu menjelaskan, dalam beberapa literatur seperti apa yang disampaikan C J Lengkong dalam bwaraneyblog dijelaskan, sepanjang perjalanan waktu masuk dalam kolonial Belanda, para Waraney tetap kokoh menjaga setiap prinsip dasar mereka. Walaupun beberapa daerah mulai pudar dengan mengandalkan prajurit Waraney dikarenakan Belanda membangun sistem pemerintahan. Dimana dalam peperangan para Waraney sudah jarang dilibatkan karena Belanda telah membentuk tentara pemerintah untuk keamanan daerah-daerah di Minahasa. Tetapi makna dan semangat Waraney selalu tumbuh dalam perjuangan setiap orang Minahasa. Mereka selalu tetap memegang teguh tradisi warisan para leluhur bangsa Malesung. Tugas seorang Waraney bukan saja sebagai prajurit untuk berperang. Waraney yang dimaksud adalah dia sebagai seorang yang dapat melindungi suku, menafkahi keluarga, memimpin suku dan menjaga tradisi dari para leluhur Minahasa. Jadi Waraney disaat itu ialah mereka para pemburu, petani, ahli seni, ahli bangunan, nelayan, ahli pengobatan, dan ahli pekikan “I Yayat U Santi” dalam cengkaraman burung Manguni mempunyai pengertian memerangi segala yang jahat kezaliman dan kelaliman. Jadi Burung Manguni ini melambangkan kekuatan para Waraney dalam menjaga tanah Minahasa, yang saat ini ditempati oleh 9 Suku Minahasa yaitu Tontemboan, Tonsea, Tolour, Tombulu, Tonsawang, Panosakan, Pasan, Babontehu dan dari Wikipedia, seiring tidak ada lagi peperangan antardaerah, Kabasaran kini dijadikan sebagai tari penyambutan tamu dan hiburan warga Minahasa ketika menyelenggarakan pesta adat. Seringkali, tarian ini hadir sebagai hiburan warga ketika propinsi Sulawesi Utara menyelenggarakan festival merupakan identitas tou Minahasa, bukan sekadar dijadikan sebagai tari penyambutan tamu dan hiburan warga, tetapi lebih dalam kepada proses ritual dari jalan hidup seorang waraney. Ketika suara tambur itu ditabuh bertalu-talu. Gerak tarian pun mulai dilakukan setelah Sarian yang menjadi pemimpin tarian itu memberi komando. Pekik suara Sarian Makalele I Yayat U Santi pun bergema, gemericik suara kaki para penari pun akan begitu memekak di pertanda dimulainya tarian Kabasaran saat tamu kebesaran atau ada pejabat yang datang. Ungkapan I Yayat U Santi yang terjemahan harafiahnya berarti angkatlah dan acung-acungkanlah pedang Mu Itu. Maka apabila menggunakan ungkapan dan seruan ini untuk masa kini, maka maknanya ialah supaya kita melengkapi diri kita dengan segala kearifan, hikmat, keterampilan, ilmu pengetahuan dan teknologi serta keahlian. Pada zaman dahulu para penari Kabasaran, hanya menjadi penari pada upacara-upacara adat. Namun, dalam kehidupan sehari-harinya mereka adalah petani dan rakyat biasa. Apabila Minahasa berada dalam keadaan perang, maka para penari Kabasaran menjadi penari kabasaran memiliki satu senjata tajam yang merupakan warisan dari leluhurnya yang terdahulu, karena penari kabasaran adalah penari yang turun temurun. Tarian ini umumnya terdiri dari tiga babak sebenarnya ada lebih dari tiga, hanya saja, sekarang ini sudah sangat jarang dilakukan. Babak-babak tersebut terdiri dari Pertama, Cakalele, yang berasal dari kata “saka” yang artinya berlaga, dan “lele” artinya berkejaran melompat-lompat. Babak ini dulunya ditarikan ketika para prajurit akan pergi berperang atau sekembalinya dari perang. Atau, babak ini menunjukkan keganasan berperang pada tamu agung, untuk memberikan rasa aman pada tamu agung yang datang berkunjung bahwa setan-pun takut mengganggu tamu agung dari pengawalan penari kedua ini disebut Kumoyak, yang berasal dari kata “koyak” artinya, mengayunkan senjata tajam pedang atau tombak turun naik, maju mundur untuk menenteramkan diri dari rasa amarah ketika berperang. Kata “koyak” sendiri, bisa berarti membujuk roh dari pihak musuh atau lawan yang telah dibunuh dalam Lalaya’an. Pada bagian ini para penari menari bebas riang gembira melepaskan diri dari rasa berang seperti menari “Lionda” dengan tangan dipinggang dan tarian riang gembira lainnya. Keseluruhan tarian ini berdasarkan aba-aba atau komando pemimpin tari yang disebut “Tumu-tuzuk” Tombulu atau “Sarian” Tonsea. Aba-aba diberikan dalam bahasa sub–etnik tombulu, Tonsea, Tondano, Totemboan, Ratahan, Tombatu dan Bantik. Pada tarian ini, seluruh penari harus berekspresi Garang tanpa boleh tersenyum, kecuali pada babak lalayaan, dimana para penari diperbolehkan mengumbar senyum tari Kabasaran pada dasarnya terdiri dari sembilan gerakan pedang santi/kelewang dan Sembilan gerakan tombak wengkou dengan langkah kaki 4/4, yaitu dua langkah kekiri dan dua langkah ke kanan. Aturan menarinya pun begitu tegas dan jelas. Dalam gerakan pedang dan tombak, yaitu pedang santi/kelewang tidak boleh digunakan untuk menusuk dan menangkis, tombak wengkou hanya untuk gerakan menusuk sedangkan untuk menangkis hanya boleh perisai kelung.rhs
Salah satu kebanggaan kita sebagai orang Indonesia adalah kekayaan budaya yang dimiliki. Setiap daerah di Indonesia punya kebudayaan dan falsafah hidup yang berbeda, salah satunya Minahasa yang kebanyakan berdomisili di kota Manado dan sekitarnya, dikenal sebagai masyarakat dan kota paling toleransi di Indonesia. Sebab kerukunan hidup beragama di Manado yang sangat toleran dan hidup antar umat beragama ini berlandaskan pada falsafah yang dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat. Berikut ini lima falsafah hidup orang Minahasa yang layak Si tou timou tumou touilustrasi saling membantu tou timou tumou tou memiliki arti manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain. Falsafah ini dicetuskan oleh Sam Ratulangi, pahlawan nasional Indonesia yang merupakan keturunan asli Minahasa. Menurut falsafah ini seseorang baru bisa disebut manusia jika ia sudah membantu manusia lainnya. Inilah mengapa masyarakat Minahasa sangat terkenal dengan jiwa gotong royong yang tinggi. Si tou timou tumou tou sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Minahasa hingga kini, tak peduli latar belakang dan status Torang samua basudarailustrasi persaudaraan walau berbeda samua basudara memiliki arti 'kita semua bersaudara'. Falsafah ini sangat dihidupi masyarakat Minahasa dan sekitarnya. Saling membantu sesama menghantarkan Manado menjadi salah satu kota paling toleransi di ini mengajarkan masyarakat untuk hidup rukun layaknya saudara, tak peduli apa suku, agama, ras, dan latar belakang orang. Kalau kamu sudah pernah ke Manado, maka kamu akan terbiasa dengan pemandangan para remaja masjid yang menjaga keamanan gereja saat Natal, maupun para pemuda gereja yang menjaga keamanan saat lebaran. Baca Juga Keren! Ini Dia, 5 Falsafah Hidup Masyarakat Lampung yang Masih Utuh 3. Baku bekeng pande ilustrasi belajar bersama berkaitan dengan si tou timou tumou tou, falsafah baku bekeng pande memiliki makna saling membantu agar sama-sama menjadi pintar atau ahli melakukan ini lebih mengarah ke proses pembelajaran dan kerjasama agar semua orang sama-sama maju. Baku bekeng pande mengajarkan masyarakat Minahasa untuk peduli kepada sesama dan tidak mementingkan diri Mapalusilustrasi saling membantu adalah sebuah tradisi masyarakat Minahasa dengan melakukan sistem kerja sama dan gotong royong untuk kepentingan bersama. Dilihat secara umum, para leluhur suku Minahasa mengajarkan untuk saling tolong menolong dan bahu-membahu, agar bisa maju di beberapa daerah Minahasa, masih ada masyarakat yang membangun rumah dengan melakukan mapalus antar warga. Di mana yang empunya rumah tidak perlu menyewa tukang bangunan, tapi hanya menyediakan konsumsi untuk para tetangga yang membantu membangun rumah I yayat u santitarian kabasaran khas Minahasa I yayat u santi biasanya diteriakan oleh para penari tarian Kabasaran. I yayat u santi sendiri memiliki arti secara harafiah, yakni 'angkatlah pedangmu dan marilah berperang'. Secara mendalam artinya bukanlah ajakan untuk berperang, tapi lebih kepada semangat berjuang pejabat juga biasanya selalu membubuhkan slogan i yayat u santi saat mengakhiri pidatonya. Falsafah ini mengajarkan masyarakat untuk punya semangat juang yang tinggi layaknya mau berperang, saat akan melakukan segala kini zaman semakin modern, tapi masyarakat Minahasa masih memegang erat lima falsafah hidup di atas. Lima falsafah dan prinsip di atas pun layak banget untuk ditiru. Baca Juga Sarat Kebaikan, Begini Falsafah Hidup Orang Bone yang Bisa Kamu Contoh IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.
ShopUpgrade to CoreGet CoreJoinLog InGet Core Membership60% off for a limited time!Get CoreThemeDisplay Mature ContentSuppress AI ContentGet Help and Send FeedbackTerms of ServicePrivacy PolicyDeviation ActionsMore by WGOTS26artsWant to browse ad-free? Upgrade to CoreTrending DeviantsDeer-HeadFlintofMother3NamyGagaSuggested CollectionsMemeNamy GagaFNAF I FANGAMEWant to browse ad-free? Upgrade to CoreYou Might Like…ByWGOTS26artsPublished May 27, 2023131 Views2023artworkdeviantartindonesiaindonesianminahasakabasaranLocation MinahasaDescription As a proud quarter Minahasan, I would like to present you my Kabasaran artwork. I've been doing it for so long since then. As an Indonesian, I would like to present this artwork as a shape of pride of my detailsImage size2000x1080px MB © 2023 WGOTS26artsWant to browse ad-free? Upgrade to CoreComments0Join the community to add your comment. Already a deviant? Log In
kabasaran i yayat u santi